Rabu, 16 Juli 2014

Ustadz Abdul Hamid ( Ustadz Pledek) - ENAM KUNCI SURGA

 
 Kajian Siang hari ini tgl 12 /07 / 2014 Oleh: Ustadz Pledek - Karawang - Jawa Barat.
"ENAM KUNCI SURGA"
Sayidina Ali RA Berkata yang artinya:Barang siapa yang mengumpulkan enam perkara, berarti ia telah berusaha meraih surga dan menjauhi neraka, yaitu :
1.mengetahui Allah,kemudian menaati-nya
2.mengetahui setan, kemudian mendurhakainya
3.mengetahui (kebahagiaan)akhirat,lalu berusaha mencarinya
4.mengetahui dunia,kemudian meninggalkannya(kecuali sebatas untuk bekal kembali ke akhirat)
5.mengetahui yang haq,lalu mengikutinya dan
6.mengetahui yang bathil,lalu menjauhinya. "

#Semoga_Bermanfaat Amiin:)

Kamis, 10 Juli 2014

Ustadz Abdul Hamid - Qs. 'Abasa : 1-42

                     


001. (Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena,
002. (telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum. Nabi saw. tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk Islam. Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak mengetahui kesibukan Nabi saw. pada waktu itu, karena ia buta. Maka Abdullah bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru, "Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Akan tetapi Nabi saw. pergi berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini. Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, "Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya," lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.
003. (Tahukah kamu) artinya, mengertikah kamu (barangkali ia ingin membersihkan dirinya) dari dosa-dosa setelah mendengar dari kamu; lafal Yazzakkaa bentuk asalnya adalah Yatazakkaa, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Za sehingga jadilah Yazzakkaa.
004. (Atau dia ingin mendapatkan pelajaran) lafal Yadzdzakkaru bentuk asalnya adalah Yatadzakkaru, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Dzal sehingga jadilah Yadzdzakkaru, artinya mengambil pelajaran dan nasihat (lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya) atau nasihat yang telah didengarnya dari kamu bermanfaat bagi dirinya. Menurut suatu qiraat lafal Fatanfa'ahu dibaca Fatanfa'uhu, yaitu dibaca Nashab karena menjadi Jawab dari Tarajji atau lafal La'allahuu tadi.
005. (Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup) karena memiliki harta.
006. (Maka kamu melayaninya) atau menerima dan mengajukan tawaranmu; menurut suatu qiraat lafal Tashaddaa dibaca Tashshaddaa yang bentuk asalnya adalah Tatashaddaa, kemudian huruf Ta kedua diidgamkan kepada huruf Shad, sehingga jadilah Tashshaddaa.
007. (Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri) yakni orang yang serba berkecukupan itu tidak beriman.
008. (Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera) lafal Yas'aa berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan bagi Fa'il atau subjek yang terkandung di dalam lafal Jaa-a.
009. (Sedangkan ia takut) kepada Allah swt.; lafal Yakhsyaa menjadi Haal dari fa'il yang terdapat di dalam lafal Yas'aa, yang dimaksud adalah si orang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum.
010. (Maka kamu mengabaikannya) artinya, tiada memperhatikannya sama sekali; lafal Talahhaa asalnya Tatalahhaa, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang, sehingga jadilah Talahhaa.
011. (Sekali-kali jangan) berbuat demikian, yakni janganlah kamu berbuat hal yang serupa lagi. (Sesungguhnya hal ini) maksudnya, surat ini atau ayat-ayat ini (adalah suatu peringatan) suatu pelajaran bagi makhluk semuanya.
012. (Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya) atau tentu ia menghafalnya kemudian menjadikannya sebagai nasihat bagi dirinya.
013. (Di dalam kitab-kitab) menjadi Khabar yang kedua, karena sesungguhnya ia dan yang sebelumnya berkedudukan sebagai jumlah Mu'taridhah atau kalimat sisipan (yang dimuliakan) di sisi Allah.
014. (Yang ditinggikan) di langit (lagi disucikan) dari sentuhan setan.
015. (Di tangan para penulis) yakni malaikat-malaikat yang menukilnya dari Lohmahfuz.
016. (Yang mulia lagi berbakti) artinya, semuanya taat kepada Allah swt.; mereka itu adalah malaikat-malaikat.
017. (Binasalah manusia) maksudnya, terlaknatlah orang kafir itu (alangkah sangat kekafirannya) Istifham atau kata tanya pada ayat ini mengandung makna celaan; makna yang dimaksud, apakah gerangan yang mendorongnya berlaku kafir?
018. (Dari apakah Allah menciptakannya?) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir. Kemudian Allah menjelaskannya melalui firman berikutnya:
019. (Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi 'alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.
020. (Kemudian untuk menempuh jalannya) yakni jalan ia keluar dari perut ibunya (Dia memudahkanny
021. (Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur) artinya, Dia menjadikannya berada di dalam kubur yang menutupinya.
022. (Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali) menjadi hidup kembali pada hari berbangkit nanti.
023. (Tidaklah demikian) artinya, benarlah (manusia itu belum melaksanakan) belum mengerjakan (apa yang diperintahkan Allah kepadanya) yakni apa yang telah diperintahkan oleh Rabbnya supaya ia mengerjakannya.
024. (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan) dengan memasang akalnya (kepada makanannya) bagaimanakah makanan itu diciptakan dan diatur untuknya?
025. (Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air) dari awan (dengan sebenar-benarnya.)
026. (Kemudian Kami belah bumi) dengan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari dalamnya (dengan sebaik-baiknya.)
027. (Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu) seperti biji gandum dan biji jawawut.
028. (Anggur dan sayur-sayuran) atau sayur-mayur.
029. (Zaitun dan pohon kurma),
030. (dan kebun-kebun yang lebat) yakni kebun-kebun yang banyak pepohonannya.
031. (Dan buah-buahan serta rumput-rumputan) yaitu tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan binatang ternak; tetapi menurut suatu pendapat "Abban" artinya makanan ternak yang berasal dari tangkai atau bulir gandum atau padi dan lain sebagainya yang sejenis.
032. (Untuk kesenangan) sebagai kesenangan atau untuk menyenangkan, penafsirannya sebagaimana yang telah disebutkan tadi pada surat sebelumnya (bagi kalian dan bagi binatang-binatang ternak kalian) penafsirannya sama dengan yang terdahulu pada surat sebelumnya.
033. (Dan apabila datang suara yang memekakkan) yakni tiupan sangkakala yang kedua.
034. (Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.)
035. (Dari ibu dan bapaknya.)
036. (Dari teman hidupnya) yakni istrinya (dan anak-anaknya) lafal Yauma merupakan Badal dari lafal Idzaa, sebagai Jawabnya disimpulkan dari berikut ini.
037. (Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya) yakni keadaan yang membuatnya tidak mengindahkan hal-hal lainnya, atau dengan kata lain setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya masing-masing.
038. (Banyak muka pada hari itu berseri-seri) yakni tampak cerah ceria.
039. (Tertawa dan gembira) atau bergembira, mereka itu adalah orang-orang yang beriman.
040. (Dan banyak pula muka pada hari itu tertutup debu) artinya, penuh dengan debu.
041. (Dan ditutup pula) diselimuti pula (oleh kegelapan) dan kepekatan yang menghitam.
042. (Mereka itulah) maksudnya, orang-orang yang keadaannya demikian adalah (orang-orang kafir lagi durhaka) yakni orang-orang yang di dalam dirinya berkumpul kekafiran dan kedurhakaan.

Selasa, 08 Juli 2014

Da'i Abdul Hamid ( Ust .Pledek ) - Saat nya Pemuda Yang Bicara

Assalamualikum.wr.wb
Wahai Pemuda, BANGKITLAH!!!
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadikanlah diri kamu pembela-pembela (agama) Allah…..” (61: 14)

Berkata tentang pembela-pembela agama Allah, marilah kita menyingkap kembali sirah terdahulu pada zaman para sahabat.
Siapakah dia yang telah menjadi pejuang-pejuang agama Allah pada zaman dahulu?
Merekalah para pemuda yang kental hatinya, mantap imanny
a, sempurna akidahnya dan tidak terbuai dengan tipu daya dunia. Mereka inilah yang telah ditarbiyah oleh Rasulullah dalam perancangan menegakkan panji-panji islam.
Abu Bakar, lebih muda 3 tahun daripada Rasulullah, Umar, memeluk islam pada umur 27 tahun, Ali, menerima hidayah pada umur 10 tahun, Mus’ab bin Umair, Abdullah ibn Mas’ud, Bilal bin Rabbah, Salman al Farisi dan berpuluh lagi para sahabat merupakan golongan pemuda yang begitu kukuh akidah mereka hasil didikan tarbiyah daripada Muhammad saw.
Sekarang mari kita pergi ke depan sedikit, iaitu selepas zaman para sahabat. Siapakah pejuang-pejuang agama Allah yang telah menegakkan ketauhidan di muka bumi ini. Dialah Salahuddin al-Ayyubi, yang telah menakluk Jerusalem pada umur 40 lebih. Dialah Sultan Muhammad al-Fateh, yang telah menakluk Constantinople pada umur 21 tahun.
Maka pada hari ini, mari kita bertanya pada diri kita, siapakah pemuda-pemuda yang akan kembali mendaulahkan Islam di muka bumi ini, siapakah pemuda-pemuda yang akan kembali menegakkan panji-panji syahadah di masa depan. Adakah kita akan tergolong dalam mereka-mereka yang menegakkan agama Islam.
Adakah pada hari ini kita sudah cukup bersedia untuk menjadi pembantu-pembantu agama Allah.
Mari kita tanya diri kita sendiri.
Adakah pemuda yang memenuhi masa lapangnya dengan movie akan dapat mencontohi Abu Bakar?
Adakah pemuda yang tidak lekang dengan lagu-lagu lagho akan dapat mencontohi Salman al-Farisi?
Adakah para pemuda yang tidur lambat kerana bermain game sama dengan Sultan Muhammad al-Fateh yang tidak pernah terlepas solat tahajjudnya di malam hari sesudah baligh?
Di mana tahap kita pada hari ini?
Suka saya untuk membawa beberapa hadis yang berkata tentang para pemuda, yang sepatutnya diketahui dan diambil pelajaran oleh setiap daripada kita:
1. Rasulullah saw bersabda: “Rebutlah lima perkara sebelum lima perkara…masa mudamu sebelum masa tuamu” (HR al-Hakim)
2. Rasulullah saw bersabda: “ Tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan selain daripada perlindungan Allah……..pemuda yang sentiasa mengabdikan diri pada Allah pada masa umurnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
3. Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya Allah sangat mengkagumi pemuda yang tidak ada baginya masa muda( berhibur dan bersuka ria).” (HR Ahmad dan Abu Ya’la)
4. Rasulullah saw bersabda: “ Tidak akan melangkah seorang hamba pada hari akhirat kelak sehingga ditanya kepadanya tentang 4 perkara:…..masa mudanya, pada apa dia telah habiskan.” (HR Tirmizi)
Mungkin ada yang di antara kita merasakan dirinya tidak perlu untuk turut sama dalam perjuangan ini, merasakan dirinya cukup untuk sekadar memerhati. Di sini saya mahu membawa satu perumpamaan perbezaan bagi mereka yang sekadar memerhati dan bagi mereka yang turut bersama dalam perjuangan.
Baru-baru ini kelab Man Utd berjaya memegang takhta liga. Oleh itu saya mahu bertanya, adakah sama perasaan para penyokong kelab itu dan Alex Ferguson? Adakah sama perasaan mereka yang sekadar bersorak dengan pemain kelab itu sendiri? Dan adakah sama imbalan mereka yang sekadar memerhati permainan dan mereka yang bersusah payah memenangi perlawanan bola itu?
Tidak sama sekali!
Perasaan mereka yang hanya memerhati akan pasti berbeza dengan mereka yang turut berjuang.
Imbalan mereka yang hanya memerhati pasti akan berbeza dengan mereka yang bersusah-payah.
Sekian terimakasih Wassalamualikum.wr.wb

Kajian Malam hari ini tgl 08/07/14 oleh : Ustadz Abdul Hamid - Karawang - Jawa Barat "Tujuh Kerugian Orang Bakhil"

Kajian Malam hari ini tgl 08/07/14 oleh : Ustadz Abdul Hamid (Ustadz Pledek) - Karawang - Jawa Barat
"Tujuh Kerugian Orang Bakhil"
Abu Bakar Ash-Shidiq RA.berkata:
"Orang yang bakhil atau kikir tidak bisa terlepas dari salah satu tujuh perkara yaitu :
1.Ketika ia Mati,hartanya akan diwarisi oleh orang yang akan menghabiskannya untuk sesuatu yang tidak diperintahkan Allah Swt.
2.Allah akan membangkitkan penguasa zhalim yang akan merenggut seluruh hartanya setelah menyiksanya terlebih dahulu.
3.Allah menggerakan dirinya untuk menghabiskan harta bendanya.
4.Muncul ide pada dirinya untuk mendirikan bangunan berikut semua harta yang di simpan di dalamnya lalu ludes.
5.Dia ditimpa musibah yang dapat menghabiskan hartanya,seperti tenggelam,terbakar,mengalami pencurian,dan sebagainya.
6.Dia tertimpa penyakit kronis sehingga hartanya habis untuk berobat.
7.Dia menyimpan hartanya di sebuah tempat,kemudian ia lupa tempat itu,sehingga hartanya hilang.
#SEMOGA-BERMANFAAT..."

Kajian Siang hari ini tgl 08/07/14 oleh : Ustadz Abdul Hamid (Ustadz Pledek) - Karawang - Jawa Barat "Tiga Nasihat"

Kajian Siang hari ini tgl 08/07/14 oleh :  Ustadz Abdul Hamid (Ustadz Pledek) - Karawang - Jawa Barat
"Tiga Nasihat"
Diceritakan dalam suatu riwayat bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Isroil yang hendak pergi menuntut ilmu dan kebetulan berita itu sampai kepada Nabi mereka, lalu ia di panggil untuk menghadapnya.. Setelah datang,sang Nabi berkata kepadanya:"Wahai orang muda, camkanlah! Aku akan memberimu wejangan dari ilmu orang - orang terdahulu dan orang - orang yang terkemudian , yaitu :
1. Takutlah kepada Allah , baik sewaktu berada di tempat sepi maupun di tempat ramai.
2. Jaga lisanmu; jangan sampai engkau berkata sembarangan kepada orang lain, kecuali hal - hal yang baik.
3. Perhatikan makananmu;jangan sampai kamu memakannya, kecuali dengan hasil yang halal."

Karena beratnya pesan tersebut , sedang tiada kemampuan bagi pemuda itu untuk menunaikannya bila jauh dari Nabinya, akhirnya dia mengurungkan niatnya mencari ilmu ke negri lain,

#SEMOGA_BERMANFAAT:)

Jumat, 04 Juli 2014

Kajian Sore Hari ini Tgl 04/07/14 Oleh : Ust.Abdul Hamid "Empat Keutamaan Diam"

 Kajian Sore hari ini tgl 04/07/14 oleh : Ustadz Abdul Hamid (Ustadz Pledek) - Karawang
"Empat Keutamaan Diam"
1.Sholat adalah tiang agama,tetapi diam itu lebih utama.
2.Shodaqoh dapat memadamkan murka Rabb, diam itu lebih utama.
3.Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama.
4.Jihad itu puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama."

Maksud diam di sini adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat,baik dari urusan agama maupun dunia, dan diam dari membalas omongan - omogan yang mecemoh kita.Nah, diam yang seperti ini termasuk ibadah yang paling tinggi, sebab kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan.
#Semoga bermanfaat

Kamis, 03 Juli 2014

Kajian Siang Hari ini Oleh : Ustadz Abdul Hamid

 
 Kajian Siang hari ini Oleh :Da'i Ustadz Abdul Hamid (Ustadz Pledek) - Karawang
Sabar dapat tergolong menjadi 3 golongan.
1.Sabar dalam melaksanakan ketaatan.
Sebagai orang muslim tidak terlepas dari perintah - perintah Allah baik yang wajib, maupun yang sunah,dalam melaksanakan perintah - perintah tersebut kita di anjurkan untuk melaksanakan dengan penuh kesabaran. Contohnya dalam mengerjakan sholat 5 waktu, tanpa diiringi dengan sabar, maka yang terjadi adalah kemalasan dan enggan untuk melaksanakan sholat karena rutinitas dan kewajiban.

2.Sabar menghadapi maksiat.
Sabar dalam menjauhi yang dilarang oleh Allah SWT, jelas sekali bahwa pada dasarnya kita seringkali mengalami 2 pilihan antara yang baik dan dilarang oleh Allah SWT, hati sangat berperan sekali dalam menentukan, kita jatuh ke maksiat atau bisa menepis segala yang dilarang dan dikecam Allah untuk itulah di butuhkan kesabaran.Setan yang setiap detik selalu menyasarkan dan membujuk kejalan yang dilarang,kalau tidak waspada kita akan jatuh penyesalan yang akan kita dapati.

3.Sabar dalam menghadapi musibah
Sabar dalam menghadapi kesulitan atau musibah itu terbagi menjadi 2 bagian :
-Musibah yang datangnya dari Allah seperti penyakit, kehilangan, kematian dan lain - lain.
Allah SWT berfirman yang artinya : "Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan buah - buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang - orang yang sabar (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raajiun"(QS.Al Baqoroh 155).

-Msibah yg dtng dari manusia.
Sabar dalam menghdapi musibah yang dtng dari manusia seperti pertentangan, permusuhan,penghinaan,persengketan.Apabila mendapat musibah seperti ini maka kita harus sabar tidak mempunyai rasa kebencian, dendam pada orang yang menggngu jstru bersha untuk memaafkan.
Sebagaimna Allah SWT berfirman yang artinya : " Dan orang yang sabar dan mau memaafkan sesungghnya perbuatan yang dmkian itu termasuk hal-hal yg di utamakan.
#Semoga bermanfaat